Islam Dibangun di Atas Lima Pondasi Rukun
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Transliterasi Latin
Buniyal Islaamu 'alaa khamsin: syahaadati an laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan Rasuulullaah, wa iqaamish-shalaah, wa iitaa'iz-zakaah, wal hajji, wa shaumi Ramadhaan.
Terjemahan Bahasa Indonesia
“Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, menunaikan haji, dan puasa Ramadhan.”
Hadits fundamental ini mengilustrasikan Islam bagaikan sebuah istana megah yang ditopang oleh 5 tiang utama. Runtuhnya salah satu tiang merusak keutuhan bangunan keislaman seseorang.
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari
194 H - 256 H (810 - 870 M) • Bukhara (Uzbekistan) — Khartank, Samarkand
Shahih Bukhari No. 8 & Shahih Muslim No. 16
Amirul Mukminin fil Hadits (Puncak Kredibilitas / Tsiqah Tertinggi)
Ulama pakar hadits terkemuka yang menerapkan kriteria keshahihan paling ketat dalam sejarah Islam. Beliau mensyaratkan perawi harus sezaman (mu'asharah) dan terbukti pernah bertemu langsung (tsubutul liqa') serta memiliki integritas moral (adalah) dan daya ingat sempurna (dhabth).
Tanyakan makna kontekstual, dalil pendukung, atau implementasi hadits ini kepada QuAI.

