Orang Kuat Adalah yang Menahan Amarah
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Transliterasi Latin
Laisasy-syadiidu bish-shura'ati, innamasy-syadiidul ladzii yamliku nafsahu 'indal ghodhob.
Terjemahan Bahasa Indonesia
“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat sesungguhnya adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
Kekuatan sejati dalam ajaran Islam bukan terletak pada kekuatan fisik semata, melainkan kemenangan spiritual dalam menaklukkan hawa nafsu dan amarah yang ditiupkan oleh setan.
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari
194 H - 256 H (810 - 870 M) • Bukhara (Uzbekistan) — Khartank, Samarkand
Shahih Bukhari No. 6114 & Shahih Muslim No. 2609
Amirul Mukminin fil Hadits (Puncak Kredibilitas / Tsiqah Tertinggi)
Ulama pakar hadits terkemuka yang menerapkan kriteria keshahihan paling ketat dalam sejarah Islam. Beliau mensyaratkan perawi harus sezaman (mu'asharah) dan terbukti pernah bertemu langsung (tsubutul liqa') serta memiliki integritas moral (adalah) dan daya ingat sempurna (dhabth).
Tanyakan makna kontekstual, dalil pendukung, atau implementasi hadits ini kepada QuAI.

