Takutlah terhadap Doa Orang yang Terdzalimi
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
Transliterasi Latin
Wattaqi da'watal mazhluum, fa innahu laisa bainahaa wa bainallaahi hijaab.
Terjemahan Bahasa Indonesia
“Dan takutlah engkau terhadap doa orang yang terdzalimi, karena sungguh tidak ada tabir pemisah antara doanya dengan Allah SWT.”
Peringatan tegas bagi siapa pun yang memiliki kekuasaan atau kekuatan agar tidak menindas hak orang lain. Doa orang yang dizalimi menembus langit dan langsung diijabah oleh Allah SWT.
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari
194 H - 256 H (810 - 870 M) • Bukhara (Uzbekistan) — Khartank, Samarkand
Shahih Bukhari No. 2448 & Shahih Muslim No. 19
Amirul Mukminin fil Hadits (Puncak Kredibilitas / Tsiqah Tertinggi)
Ulama pakar hadits terkemuka yang menerapkan kriteria keshahihan paling ketat dalam sejarah Islam. Beliau mensyaratkan perawi harus sezaman (mu'asharah) dan terbukti pernah bertemu langsung (tsubutul liqa') serta memiliki integritas moral (adalah) dan daya ingat sempurna (dhabth).
Tanyakan makna kontekstual, dalil pendukung, atau implementasi hadits ini kepada QuAI.

